oleh

Kolaborasi Pemda Jepara – BRIN – PGN Hasilkan 176 Ton Gabah, Panen Biosalin Jepara Lampaui Target

-BUMN-453 Dilihat

Jepara, 24 April 2026 – Program pengembangan budidaya padi biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara yang merupakan program CSR dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk/PGN, Subholding Gas Pertamina bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Daerah, mencatatkan capaian positif dengan melampaui target luas panen di tengah kondisi cuaca ekstrem. Dari target awal 20 hektare, realisasi panen mencapai 22 hektare pada musim tanam kali ini.

Keberhasilan ini mencerminkan ketahanan program dalam menghadapi tantangan iklim sekaligus menunjukkan potensi pendekatan biosalin sebagai solusi adaptif bagi sektor pertanian di wilayah pesisir yang seringkali terdampak intrusi air laut.

Berdasarkan hasil panen kali ini, produktivitas rata-rata tercatat sebesar 7–9 ton per hektare. Dengan demikian, total produksi mencapai rata-rata sekitar 176 ton gabah. Dari sisi ekonomi, capaian ini menghasilkan nilai sekitar Rp1,23 miliar, dengan asumsi harga gabah Rp7.000 per kilogram.

Kepala BRIN, Prof.Dr. Arif Satria, SP., Msi., menegaskan pentingnya penerapan teknologi berbasis riset dalam sektor pertanian. Ia menjelaskan bahwa konsep budidaya padi varietas biosalin dirancang untuk menjawab tantangan spesifik yang dihadapi lahan pertanian di wilayah pesisir yang mengalami peningkatan salinitas akibat intrusi air laut dan banjir rob serta perubahan iklim yang sering menyebabkan gagal panen.

“Keunggulan varietas Biosalin ini adalah mampu menghasilkan kurang lebih 9 ton per hektare dan memiliki masa tanam antara 84 hingga 107 hari. Yang tidak kalah penting varietas biosalin ini memiliki kelebihan tahan terhadap hama penyakit dan mampu bertahan di lahan marginal,” jelas Arif.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengembangan varietas padi biosalin bukan hanya untuk mendorong produksi namun juga dapat dimaknai sebagai pendekatan langkah mitigasi dan pemulihan pascabencana.

“Kami mendorong agar model seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan demikian, inovasi berbasis riset benar-benar menjadi pendorong dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkap Arif.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menilai keberhasilan ini sebagai momentum penting bagi penguatan ketahanan pangan daerah. Menurutnya, program budidaya padi biosalin tidak hanya membantu menjaga produksi pertanian, tetapi juga memberikan kepercayaan diri bagi petani untuk tetap berproduksi di tengah ketidakpastian iklim.

“Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian tetap bisa tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, bahkan di tengah tekanan cuaca ekstrem,” kata Witiarso.

Kami juga sangat berterima kasih kepada PGN dan BRIN yang telah menghadirkan inovasi dan pendampingan nyata melalui program budidaya padi biosalin di Kabupaten Jepara. Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan kondisi lahan pesisir yang tadinya merupakan lahan tidur, justru bisa mendongkrak hasil panen petani. Kolaborasi ini tidak hanya mampu menjaga produktivitas pertanian tetapi juga memberikan harapan baru bagi para petani.

“Ke depan, kami berharap inisiatif ini dapat terus diperluas dan menjadi model penguatan ketahanan pangan daerah berbasis riset dan kemitraan strategis,” ujar Witiarso

Division Head Corporate Social Responsibility (CSR) PGN, Krisdyan Widagdo Adhi menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dalam program ini merupakan bagian dari komitmen untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan, melalui program CSR PGN, perusahaan tidak hanya melakukan pendampingan secara intensif, tapi juga mendorong peningkatan kapasitas, serta transfer pengetahuan agar petani mampu mengadopsi praktik pertanian adaptif secara mandiri pada musim tanam berikutnya.

“Artinya, keberhasilan hari ini menjadi fondasi agar petani dapat terus berproduksi tanpa ketergantungan pada intervensi program di masa depan,” jelas Krisdyan.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pendekatan ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah operasional. Program biosalin, kata dia, tidak hanya memberikan nilai tambah dari sisi produksi, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang terukur bagi petani dan ekosistem lokal.

“Kami berharap program ini dapat terus berkembang sebagai model pemberdayaan berbasis riset dan kolaborasi, sekaligus menjadi kontribusi nyata PGN dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan pembangunan berkelanjutan,” pungkas Krisdyan.

(Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *